Cinta SMA Ranah Melayu


[Retna Wati] – Masa orientasi ku sebagai siswi baru di SMA Negeri 1 Bagan Sinembah sudah berakhir. Aku sudah resmi menjadi siswi di SMA favorit di sebuah kecamatan kecil di Riau, kecamatan Bagan Sinembah, ranah melayu. Di kecamatan inilah aku dibesarkan hingga menjadi seorang gadis belia dan sekarang duduk di bangku SMA.

Hari ini hari pertama aku memasuki kelas baru ku, kelas X-D. Sedikit asing dengan pemandangan sosok-sosok makhluk baru yang aku belum pernah melihat apalagi kenal dengan mereka sebelumnya. Ku pandang, ku perhatikan satu demi satu sosok mereka hingga akhirnya mata ku tertuju pada lelaki berkulit sawo matang bertubuh tidak terlalu tinggi dengan senyum khas orang jawa tulen yang menampakkan gigi putihnya yang tersusun rapi di rahangnya. Tanpa bertanya aku pun bisa langsung menebak kalo dia bersuku jawa, wajahnya orisinil jawa sekali.

Bulan kedua

Entah kenapa rasa penasaran ku terhadap lelaki jawa itu semakin menjadi-jadi. Aku memberanikan diri bertanya pada teman sebangkunya nomor telfonnya.

Sepulang sekolah ku sms lelaki jawa yang aku belum kenal sama sekali. Sms yang ku kirimkan padanya hanya sms anak abg yang memang sedang mencoba menarik perhatian seorang lelaki yang disukainya. Hahaha lucu ya.

Tanpa disadari kedekatan itu berbuah manis. Tertanggal 29 Oktober 2008 aku dan Adit memutuskan untuk bersama. Bersama menghadapi segala hal apa saja yang mungkin terjadi di depan sana. Komitmen belia dua remaja yang menginginkan kebersamaan yang lebih dari sekedar teman sekelas.

Dia bilang aku yang pertama. Yang pertama mengajarkannya untuk mengenal cinta. Cinta yang tidak memandang status sosial ataupun fisik sebagai alasan kita mencintai. Kita adalah dua sosok remaja yang akan menanjak dewasa, yang berusaha berkomitmen bahwa kita akan baik-baik saja seperti ini sampai aku dan kamu dipanggil oma dan opa :’)

Aku bahagia sekali saat itu. Masa-masa bersamanya adalah hal baru yang semakin hari semakin terasa dan terlihat semakin indah. Indah dirasa, indah juga untuk dibagi.

Minggu pertama

Aku masih nggak percaya ini terjadi. Sekarang sudah satu minggu aku jadian dengan Adithya Ramadhana. Secepat itu hah. This is so crazy, you know? Hal itu yang selalu ada di fikiran ku setiap aku memandangnya dari belakang tempat dia duduk di kelas. =))

            Sampai saat ini aku dan Adit masih malu-malu untuk sekedar mengobrol di sekolah. Kami hanya sering bercerita melalui pesan singkat yang hampir setiap saat kami lakukan seusai sekolah.

Haaahh ku rebahkan tubuh ku di kasur mungil berseprei merah jambu di sudut kamar ku. Ku gapai handphone nokia 6600 yang ku letakkan di atas meja tepat di samping tempat tidur ku. Belum sempat melakukan eksekusi apapun, handphone ku berdering nada sms masuk.

Beep Beep

Adithya Ramadhana

Aku belum pernah pacaran sebelumnya. Baru sama kamu aku pacaran. Aku belum mengenal cinta itu seperti apa. Ajarkan aku caranya mencintai wanita ku ini.

Pesan singkat dari lelaki jawa ku, oh he’s too sweet. Ku balas pesan singkat Adit dengan senyum lebar berseri yang terpancar nyata dari wajah ku.

Alya Riyanti

Aku juga bukan seseorang yang sudah begitu memahami apa itu cinta, tapi aku akan mencoba bersama mu memaknai setiap perasaan yang hadir dengan kebersamaan ini.

Satu bulan berlalu, tetapi aku dan Adit sama sekali tidak pernah pergi kencan. Bukan karena kami tidak menginginkannya, tetapi lebih karena aku dan dia masih terlalu belia untuk menjalin sebuah hubungan, seperti itulah yang sering orang tua ku katakan. Meskipun begitu, tidak merubah setiap rasa dan kebahagiaan yang kami rasakan. Aku tetap cinta dia dan dia tetap cinta aku. Cinta kami terlalu belia, tapi kami akan segera menuju dewasa.

Sampai pada suatu hari aku mengenal sosok lelaki baru dalam hidup ku. Namanya Aris. Dia tidak lebih tampan dari Adit, bahkan Adit jauh lebih manis dibandingkan sosok baru ini. Namun perasaan yang ku rasakan adalah sebuah kenyamanan yang lebih dari ketika bersama Adit. Apa mungkin aku jatuh cinta lagi? Entah lah, tapi dia selalu memberi ku supprise yang tidak pernah aku bayangkan akan dia lakukan untuk ku yang dia sangat tau kalau aku sudah mempunyai pacar.

Dan hal itu tentu menimbulkan sebuah akibat untuk hubungan ku dengan Adit, karena Adit mengetahui aku pernah pergi keluar untuk menemui Aris. Keputusan akhir dari masalah itu adalah aku dan Adit sepakat mengakhiri hubungan kami yang baru seumur jagung dengan penuh rasa kecewa.

Kita putus aja ya. Buat apa kita jalan terus kalo kamu nggak percaya sama aku. Aku jalan sama Aris cuma jalan sebagai teman, nggak lebih dari itu. Aku cuma ngasih tau aja, keputusan tetap sama, kita putus”, ucap ku ketika senja mulai menampakkan diri.

Tanpa mengucapkan apapun Adit pergi meninggalkan ku di pinggir jalan tepat di depan rumah ku.

Ya Tuhan apa yang baru saja aku katakan, aku masih menyayangi Adit, tetapi dia tidak sedikit pun mencoba untuk bertahan untuk ku. Tanpa ku sadari air jernih dari sudut mata ku mulai menetes. Ku langkahkan kaki ku dengan penuh kekecewaan sambil terus menundukkan kepala.

            Berhari-hari aku menangis dan menyesali apa yag telah terjadi. Tepat tujuh hari berlalu dan akhirnya aku dan Adit memutuskan untuk kembali bersama karena perasaan kami masih saling bertautan.

Dua bulan setelah kita kembali bersama, bertepatan dengan hari ulang tahun ku, sepulang sekolah kamu meminta ku untuk menuggu mu di depan kelas.

“Ada hal penting yang ingin aku bicarakan, tunggu aku di depan kelas setelah jam pelajaran selesai ya”, ucap mu ketika jam istirahat tadi.

Lima menit pertama. Sepuluh menit. Lima belas menit, dan aku mulai kesal. Kaki ku mulai beranjak dari tempat ku berdiri. Ku tinggalkan pintu kelas terbuka dengan langkah penuh kecewa.

“Tunggu”.

Langkah ku berhenti. Suara itu, aku begitu mengenalnya. Adit iya aku yakin itu Adit. Ku balikkan badan ku hingga terlihat senyum manis lelaki ku di hadapan ku yang menggeggam sesuatu di tangan kanannya.

“Buat kamu”, ucapnya sedikit membisik di telinga ku. Dua bungkus permen Kiss dengan tulisan “Selamat Ulang Tahun” dan “I Love You”.

Ini juga buat kamu”, Adit meneruskan kalimatnya sambil mengambil sebuah kotak besar yang terbungkus rapi dengan pita merah jambu, manis sekali.

Sebuah kado ulang tahun yang sama sekali tidak pernah terfikir di benak ku dia akan memberi ku kejutan seperti ini. Kejutan sederhana, sangat sederhana. Sesederhana dia mengatakan dan mengungkapkan cinta, seistimewa dia berlaku untuk membuktikan bahwa dia cinta. Ku rasa hari itu bukan hanya mereka yang menyaksikan kita yang merasa cemburu, bahkan jika semut bisa berkata mungkin dia akan berkata dia menginginkan permen ini.

Point romantis tidak selalu harus dengan membawakan setangkai mawar ataupun candle light dinner, bagi ku permen bertuliskan “I Love You” itu juga romantis. Aku mencintai mu, Adithya Ramadhana.

Pekanbaru, 1 Mei 2014 | (c) Retnawati [http://retnadaily.blogspot.com]

Advertisements

2 thoughts on “Cinta SMA Ranah Melayu

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s