Dua Belas Jam


Untitled-1

Waktu, ada hari, minggu, bulan, tahun, detik, menit, jam. Semua ini adalah goresan-goresan yang sempat aku semayamkan disebuah lemari baju. Sebuah kertas berukuran A4 namun hanya tiga kata yang menjadi sebuah kalimat pendek yang mampu tertulis. Dua Belas Jam, dan itulah kalimat tersebut. Pernah ingin saya tuliskan menjadi sebuah cerita diblog mini ini, namun tak pernah saya ingat dan lupa akan rencana itu. Barulah sempat saya ceritakan sekarang, dan hanya sebuah cerita tentang kenangan yang suatu saat entah kapan cerita kenangan ini akan menjadi sebuah cerita di anak cucu kita kelak.

Jika sebuah cerita itu berkaitan denganmu, pasti diawali dengan pagi yang indah, siang yang indah dan malam yang indah. Namun kali ini saya awali dengan tengah malam yang indah. Dimana malam pergantian tahun kala itu, dan dimalam pergantian tahun itulah sebuah perpisahan sementara. Bagaimana sementara? ya, hampir dua tahun kebetulan waktu itu kekasih saya satu kost dengannya. Hanya sebuah sapaan sapaan say hello saja yang terucap selama saya bertemu di kostnya. ” Sekali dayung, dua pulau terlewati”,ungkap saya dalam hati. Bagaimana tidak, pacar dan mantan tinggal bersama dikost. Semenjak perpisahan keduanya tak lagi satu kost, dan juga saya tak pernah lagi menyambangi pacar saya dikarenakan sudah pisah. Tepat sekitar jam 17.00 sore sepertinya, saya menerima pesan singkat melalui hp yang berisikan

Tutik sebentar lagi sampai pku sma cowoknya, ntr malam

ada acara eko? kita buat acara yuk.

Tanpa pikir panjang saya balas pesan tersebut, namun sedikit bertanya. Tumben dia sms dimalam sakral ini ngajakin keluar, apalagi saya yang diajaknya, hampir ragu saya untuk membalas dikarenakan beribu pemikiran muncul. ” Ntar jadi anti nyamuk aku, dia bawa pacar, tutik juga bawa pacar, naah aku sama siapa ?”, kataku sambil mengetik sms

Jam berapa keluar?jalan macet kalo malam kali keluar

sedikit lama saya menunggu balasan smsnya, kebetulan waktu itu pun saya yang lagi buka usaha jualan baju couple ada baju yang harus saya antar ke beberapa pelanggan. Nada dering pesan khas dari salah satu hp pabrikan terkenal saat ini berbunyi.

Tunggu tutik sampai dulu di pku, baru keluar.

Eko jemput aku ya ke kost, soalnya aku malas bawa motor.

Tutik pun sama cowoknya gak terlalu tau jalan

Singkat cerita, selesai mengantarkan pesanan ketika itu saya belum sempat pulang kerumah dan mandi. Dimulai dengan jam 21.00 berangkat dari rumah hingga akhirnya macet dijalan tiba di kostnya jam 22.10 lebih. Dikarenakan malam pergantian malam tahun baru seluruh ruas jalan di kota pekanbaru macet total. Setibanya langsung bergegas kembali melanjutkan perjalanan menuju lokasi yang disepakati. Satu jam sebelum jam tepat 00.00 kebetulan teman bersama kekasihnya, mau gak mau itu perdana mungkin yang saya ingat jalan bersamanya lagi dengan sekian lama tak pernah sedekat itu lagi. Bercerita panjang lebar, tentang kehidupan, kuliah, kenangan masa lalu hingga ke pacar. Dan ternyata api tersiram pertamax, dia mengatakan belum punya pacar. Kesempatan bagus pastinya, kembali duduk bersama dengan semua hal yang indah. Letupan demi letupan kembang api pun menandakan saatnya merayakan pergantian tahun. Sempat minta untuk difotokan dengan kamera digitalnya dengan belatar belakang cahaya kembang api, namun tak sempat bibir ini berkata,” foto bareng yuk”.

Karena perut lapar hingga pulang makan terlebih dahulu. Hingga yang awalnya punya rencana selesai shubuh lanjut gass ke kota bangkinang akhirnya tertunda. Ya, kembali kerumah saya bersama dia sekitar pukul 03.00 pagi dini hari. Badan saya yang kurang sehat diakibatkan cuaca yang tidak mendukung, yang menjadi alasan utamalah rencana perjalanan tertunda. Kembali bercerita, tak tentu arah, yah saran demi saran terlontar dari mulut saya. Dalam hati saya berbicara, ” ini wanita sekarang jauh lebih berubah saat terakhir kami berbicara berdua”.

Hingga pagi menjelang, berbicara panjang lebar pun membuat perut kami lapar. Yaah, tak tahu harus berkata apalagi, aku cuma bisa berkata terimakasih atas waktunya malam ini, sambil . . . . . . .

Mungkin itulah yang sampai sekarang, saya mengingatnya membuat tersenyum sendiri dan terkadang tertawa sendiri. Gila? iya memang gila selama ini karena mengaguminya. Hingga pada waktunya jam 09.00 saya antar kembali ke kostnya. Hanya sebuah lontaran senyum manis yang saya anggap itulah rezeki yang masih saya syukuri nikmatnya hingga sekarang. Suatu perjalanan waktu yang sangat berarti, meski sempat pernah menjadi seseorang yang tak berarti dihidupnya. Jika dulu sangat berarti dikehidupannya, pastinya pertengkaran karena orang kedua tak pernah terjadi πŸ™‚

 

Advertisements

11 thoughts on “Dua Belas Jam

  1. Hey There. I found your blog using msn. This is a really well written article. I’ll be sure to bookmark it and return to read more of your useful info. Thanks for the post. I’ll definitely comeback.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s