Perjuangan hingga mendapatkan Seribu satu sebutan


WP_001440

Semenjak masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA)  disalah satu kota tempat tinggal saya, mulailah hobi merawat motor. Berawal dari tunggangan si gesit irit hasil pemberian orang tua, hingga mulai dari modifikasi ceper hingga ke serba mengkilat. Hingga pada saatnya awal masuk kuliah, tak pernah lagi saya tunggangi dikarenakan diakhir tahun 2010 insiden kecil namun membuatnya banyak yang harus diperbaiki. Tidak pernah minta kepada orang tua untuk dibelikan yang baru, akhirnya sepeda motor si imut-imut sering dibilang kebanyakan orang diberikan kepadaku dari orang tua saya. Sejauh perjalanan kuliah awalnya enggan untuk memodifikasi kembali dikarenakan sudah jauh dari orang tua dan harus berhemat menggunakan uang.

Memberanikan diri untuk membeli aksesoris sepeda motor, karena waktu itu sudah sedikit bosan dengan penampilan sepeda motor dan ditambah dengan hobi baru bergabung disalah satu komunitas sepeda motor di kota tempat saya kuliah. Waktu itu sekitar akhir tahun 2011 mulai mengganti ban dari ukuran standart hingga ke ukuran besar, sampai juga waktu itu membeli box sepeda motor. Dikarenakan masih teringat pesan orang tua untuk berhemat menggunakan uang, merogoh kocek sedikit mengorbankan uang jajan akhirnya membeli box. Box yang tak seberapa harganya, pasti juga kualitasnya juga tak seberapa. Akhirnya juga tak bertahan lama box saya kenakan di sepeda motor, dikarenakan insiden kecil dijalan raya numbur lubang membuatnya lepas dari kedudukan bracket.

Sebulan lebih berfikir, bagaimana saya bisa menggunakan box dengan kualitas, merk dan harga yang berkualitas?.

Memberanikan diri kembali untuk cari kerjaan disebuah warung siomay bandung dikota saya tinggal. Dengan hasil sebulan saya kerja gaji pertama saya sedekahkan sebagian untuk anak kurang mampu, dan sebagiannya lagi saya belikan bracket box. Harga yang cukup waah, orang berfikir dan akan mengatakan “bodoh kali cuma besi doank harganya selangit juga dibeli “. Karena hobi apa saja rela, termasuk kelihangan pacar yang tak sesuai dan tak menyetujui hobi saya. Terpasang juga bracket bermerek terkenal di sepeda motor saya, hingga akhirnya punya inisiatif kembali membuat tunggangan super gede. Dikarenakan minta dibelikan sepeda motor jantan tak pernah ada dipikiran saya, mensyukuri apa yang diberikan oleh orang tua. Si imut awalnya pernah gede kini harus kembali lebih gede, itulah yang terbesit dipikiran saya dan kembali terfikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan yang gede kembali. Usaha demi usaha dan akhirnya menjadi guru privat dan mengajar di salah satu lembaga bimbingan yang mebuahkan hasil. 2 box jumbo ukuran 20 liter dengan merk terkenal kembali saya sandang. Melengkapi semua dengan barang yang berkualitas, dan pastinya itu merogoh kocek yang luar biasa dengan ukuran anak kuliahan seperti saya.

Sudah habis sekitar enak ratus ribu rupiah lebih saat itu hanya untuk membeli besi bracket, dan satu juta lebih hanya buat menggandeng dua buah box ukuran 20 liter. Mendekati angka dua juta rupiah, karena gaji yang lumayan besar bukan hanya untuk memikirkan si imut juga, saya sisihkan untuk wisuda nanti. Kebetulan box yang lawas masih lumayan bagus dan akhirnya saya kembali menggunakannya. Tiga box ukuran besar kembali duduk di sepeda motor, ” sudah seperti tronton saja motormu pram”, ujar salah satu sahabat saya. Hanya hitungan satu bulan, mengganti top box lawas saya dengan yang baru. Box dengan ukuran 35 liter kembali saya sandingkan dengan kedua box ukuran 20 liter, dihitung-hitung beli top box saja sudah hampir satu juta. Biaya sudah habis banyak hingga mewujudkan keinginan demi hobi. Semakin percaya diri dijalanan bahkan kopdar setiap malam minggunya di tongkrongan sesama komunitas sepeda motor lain. Dan hingga memberanikan diri untuk menunjukkannya ke orang tua, dan orang tua pun berkata,” Motor box besar mau jualan air kaya di iklan ….”. Tertawa terbahak dan cukup senang meski itu yang terlontar dari orang tua, saya pikir akan dimarahi. Dan hingga akhirnya melakukan perjalanan ke penjuru kota di pulau sumatra. Sebutan demi sebutan dari orang pun bermunculan. Tetangga saya menyebutnya ” tukang galon “, yakni pengantar air kemasan literan. Hingga teman saya menjulukinya ” tukang sayur “. Meninggalkan pekerjaan sebagai guru private dan guru bimbingan belajar, menjamah dunia pengusaha. Mencoba peruntungan di dunia usaha ikan lele dengan sahabat saya, karena saya sering mengantarkan pesanan hingga hingga ke wilayah cukup jauh menggunakan box, saya mendapatkan sebutan ” si juragan lele yang ganteng “. Sepeda motor saya kini seperti di film transformers, dulunya hanya penampilan standart dari pabrikan, kini mulai dari mesin hingga aksesoris menjadikannya besar seperti bumblebee, dan sebutan untuknya dari saya adalah Miogatron

Seribu satu sebutan, selama sebutan itu masih baik dan enak di dengar yaa apa boleh buat terserah mereka akan memberi nama apa untuk motor saya. Dan sekarang banyak pelajaran yang saya ambil dari perjuangan hidup saya, diantaranya jangan pernah terfikirkan barang itu mahal atau murah lihat dulu kualitasnya, jika itu berkualitas dan terjamin meski mahal kenapa tidak. Selama masih bisa berusaha lakukan sendiri dan berusahalah pasti anda akan bisa.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s