Mantan Terindah


Angka 14 dan 21, dua angka yang dahulunya pernah menjadi satu. Bukan berarti kami bertepatan lahirnya di bulan yang sama dan tahun yang sama. Namun memang pernah menyatu dalam sebuah cerita indah meski hanya beberapa episode saja dalam setahun. Kedua angka jika memang harus dibagi dua memang tidak bisa, 14 : 2 = 7, namun 21 : 2 = …. tak akan pernah bisa. Memang itu gambaran seperti isi hatiku hingga sekarang, tak pernah bisa dibagi dua cintaku padanya. Hingga saat ini masih terus bertanya mengapa dia waktu itu putuskan cintaku. Cara berfikir hingga menggunakan perasaan, jiwa memang tak pernah sama. Meski saling sepakat untuk berpisah, aku punya jalan dan kamu sendiri punya jalan yang berbeda kami tetap satu jalan bersama.

Β Kebersamaan kita, mungkin lebih cocok jika diibaratkan seperti…

Seperti rel kereta. Ya, dua buah besi panjang yang selalu seiring bersama. Sepanjang jalan. Keduanya selalu bersama, bukan bersatu. Satu di kanan dan satu di kiri. Keduanya terikat satu sama lain sehingga hubungan di antara keduanya semakin kuat.

Selama keduanya bersama dan berada di jalur yang sama, maka kereta akan aman ketika berjalan di atasnya. Seperti itulah diri kita. Berdua.

Tujuan kita sama, seperti tempat yang dihubungkan oleh kedua besi panjang itu. Namun cara kita meraih tujuan tersebut akan berbeda seperti kedua rel kereta itu juga. Satu rel menjadi tempat pijakan roda kereta yang berada di sisi kanan, sementara rel satunya lagi menjadi tempat pijakan roda kereta yang berada di sisi kiri. Keduanya membagi beban sama rata. Seperti kita berdua yang memiliki tugas dan tanggung jawab berbeda untuk meraih tujuan kita.(Rifki Asmat Hasan)

Angka 14 memang sempat menjadi nomor rumah, hingga kostum sepak bolaku. Dan ketika memang angka 14 itu tak pernah bisa lepas dari kehidupanku, hingga absen di kampus, dan absen ujian. Jika aku tak pernah memikirkan angka itu lagi, setiap kejadian selalu berhubungan dan muncul dengan angka 14.Dan sebenarnya siapa yang memiliki angka 14 itu?. Didalam kehidupanku angka 14 singgah mengisi waktu-waktu luangku penuh dengan kebahagian. Namun ini adalah angka 14 yang pertama sekali menemaniku, mengawaliku dibangku sekolah menengah atas kala itu. Bukan sekedar itu, saat jiwa-jiwa abg mulai bergejolak dialah yang mengajariku begitu banyak arti sesungguhnya menjadi dewasa. Meskipun hingga yang tak baik diajarkan namun disitulah sebuah tantangan bagiku sendiri untuk menemukan jawaban. Jawaban atas apa? jawaban ataas sesuatu yang tidak baik untuk mencari solusinya. Meski semua didasari cinta, namun inilah sebuah cerita yang tak akan pernah diungkapkan oleh siapa pun. Cukup aku dan dia serta Tuhan lah yang mengetahui.

Mau bagaimana lagi memang itu hanya sebuah cerita dan kisah yang menjadi sebuah episode dan tak akan pernah terulang menjadi episode meski hatiku memilihmu. Seandainya aku bisa, ingin dan keinginan lagi memelukmu terakhir kalinya. Karena hanya dirimulah yang selalu kurindukan, dan kerena itulah kamu yang menjadi terindah. Meski sempat tergeser namun itu sementara, tetap kamulah yang tetap ada disetiap langkahku. Ini coretanku bukan berarti ketika engkau membacanya aku yang terlalu berharap. Saat ini sebenarnya tidak lagi aku untuk berharap semua akan terulang seperti dulu.

Ret, Sungguhlah indah jika melihat disana kamu tersenyum lebar, bukan karena aku dan bukan juga bersamaku

Advertisements

38 thoughts on “Mantan Terindah

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s