Ketika Kata Ya, Bermakna Tidak


   Sore ini ditemani dengan segelas kopi hitam, menikmati indahnya sore dari sudut ruangan salah satu hotel di pekanbaru. Kutuliskan sebuah cerita mengisi rasa suntuk menunggu sebelum tiba waktunya untuk mengisi acara sore ini. Mungkin sedikit ngawur ceritane ngalor ngidul mbuh nendi nendi hahaha :D. Tak jauh berbeda dan masih objek yang sama, yakni dia yang tetap terasa dihati ini akan keberadaannya seperti tahun 2007 lalu. Lebih dari 6 tahun ini mereka bukan aku dan dia hanya tahu kami cuma sahabat dan tk lebih, namun disisi lain kami pernah punya hubungan khusus.

   Yang kini telah menjadi seperti hal biasa diantara kami, bukan seperti yang dulu malu-malu ketika disekolah tak terlalu menampakkan kali betapa besarnya dan spesialya masing-masing. Ketika aktif kembali berkomunikasian semenjak awal tahun 2013 lalu. Ya menikmati pergantian tahun lalu bersama, bukan impian melainkan itu kesempatan besar dan ketepatan semata. Pada akhirnya saling berbagi cerita hingga sampai saat ini. Mulai dari kehidupan pribadi, pacar hingga kuliah. Hati ini tak pernah tertutup bahkan mencaci atau saling membenci. Yang kurasakan tetap sama seperti dulu, rasa apa ? rasa yag seperti rujak, ada asinnya, manis kadang berasa pedas. Ya, ketika dia menceritakan sisi lain kehidupannya itu berasa manisnya, hingga membuat mata merem melek dan ingin nambah lagi. Dan ketika dia berbicara tentang pacar ataupun seseorang yang dia suka inilah baru terasa pedas dilidah, namun mulut hanya bisa mingkem. Menyangkut perasaan ke oang lain sementara itu bukan aku, inilah dia ketika kata Ya, bermakna tidak. Bagaimana itu bisa terjadi. aku hanya bisa bilang ya ya ya dan ya serta ya kalo membahas yang dia kagumi, seentara didalam hati berkata oowhh tidak tidak tidak.

   Sementara ketika aku ngomong perasaan ini jujur bertubi-tubi ku serang yah seperti orang lagi goreng kacang tanah lupa diangkat, gosong deh. Hingga aku menyadarinya memang sosok ini bukan siapa-siapa lagi dan tak pernah ada kesempatan lagi, seperti pemain sepak bla yang terkena kartu merah. Namun aku bukan melakukan pelanggaran, namun sengaja membuat pelanggaran. Bingung ? sama deh ahahha 😀

Advertisements

2 thoughts on “Ketika Kata Ya, Bermakna Tidak

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s