Manis, Kampung Seberang


     Manis, jika berbicara manis pasti tidak akan jauh berfikir akan gula, madu. Hitam manis, juga tidak jauh berbeda pemikiran akan menuju ke salah satu benda, yani kecap. Namun manis kali ini adalah sosok gadis, gadis dari kampung. Tak banyak aku mengangkat cerita sebelumnya tentang gadis ini. Wajah yang bisa dibilang tidak cantik tidak jelek, bahwasanya wanita memang terlahir cantik. Bisa dilihat salon selalu berlabel salon kecantikan, bukan salon kegantengan.

   Sedikit aku menilai, dia memang manis. Sesuai dengan namanya juga manis cocok untuk disandang. Selanjutnya senyum lebarnya dengan gigi kelinci khasnya yang membuat aku tak mudah melupakannya hingga postingan ini akan terus terbaca oleh siapa pun. Singkat cerita ketika pertama berjumpa dan berkenalan hingga saat ini menjadi seorang sahabat, ya hanya sebatas sahabat saat ini. Jika dalam sebuah cerita pasti ada alur, alur maju, mundur, dan maju mundur. Maka tulisan ini akan mundur 5 tahun terakhir. Ya, hanya semester perkiran menjalin suatu hubungan khusus dengannya, bukan sebagai karyawan, atasan maupun sekertaris pribadi, melainkan hubungan pacaran. Ya seperti anak sekolahan, memang saat itu pacaran bergaya anak sekolahan dengan kostum putih abu-abu. Sesuai putih abu-abu dengan kisah yang tertulis dan tayang tanpa buffering.

    Namun kisah itu harus bersambung entah sampai kapan, ketika aku menyadari siapa pilihan hatinya saat itu. Urusan belanja bisa tawar menawar, namun masalah hati tidak bisa ditawar berapa pun harganya. Yaa dia yang cukup akrab dipanggil apa saja orang mau memanggilnya. Dulunya aku memang seorang abg yang lambat mengenal dunia pacaran. Dialah yang mengajarkan aku banyak tentang kehidupan pacaran. Namun tanpa tersadarinya dan tanpa sepengetahuannya dia mengajarkanku juga betapa sakitnya tidak setulusnya dicintai. Ibarat terbang kelangit ketujuh. Itulah yang kurasakan kala ia menerima ku sebagai kekasih. Sungguh aku bersyukur karena cintaku ternyata tak bertepuk sebelah tangan.Namun akhirnya harus bertepuk sebelah tangan.

” kamu seperti anak kecil, gitu saja gak berani “

    Kalimat diatas tidak pernah aku jelaskan, namun jika aku teringat dia berkata seperti itu membuatku tertawa hingga terbahak-bahak. Dan setelah perpisahan itu, dia mulai menghubungiku sesering mungkin ataupun sebaliknya. Karena bagiku mengapa harus bermusuhan atau saling benci jika dahulunya kita pernah berbagi rasa. Tiada yang bisa menghapus kenangan melainkan benar-benar ikhlas. Gadis manis dari kampung seberang, kenanganmu begitu banyak. Namun hingga saat ini aku masih tetap sama seperti aku pertama mengenalmu, memilikimu. Walau tantangan tak pernah berhenti cinta tak pernah mati.

    Ketahuilah, Dulu hingga sekarang, sejujurnya perasaanku juga tak pernah berubah. Namamu masih direlung hatiku yang terdalam. Jika kau mencintaiku, jika kau menyayangiku, aku mohon janganlah tutup hatimu untuk pria lain. Carilah ia walau sejatinya dihatimu ia bukan yang pertama. Ingatlah, Cinta itu gak harus memiliki. Walau awalnya sakit ternyata ada kebahagiann disaat aku tahu kebenaran hatimu. Bahagia bisa melihatmu tersenyum bersama orang yang kamu kagumi. Maaf…, masalah perasaan terkadang sulit untuk dijelaskan. Terimakasih kau pernah mengajariku beberapa hal, yang menjadi pondasi kuat untuk aku bisa mencintai wanita lain setelahmu walaupun nasibnya sama hingga saat ini.

” Semoga kamu bisa membedakan mana kolam yang ada ikannya dan mana kolam yang tidak ada ikannya “. Untuk dia si manis dari kampung seberang.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s